Kamis, 06 September 2018

Bicara Politik #menurutSaya


Setelah Asian Games 2018 berakhir, politik kembali memanas. Bentuk dari politik memanas yaitu ketika semua tv kembali menayangkan berita tentang aktor politik, yang kemudian membuat Saya mematikan tv karena terlalu sulit untuk mengerti apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Kemudian Saya beralih membuka smartphone, dan buka aplikasi Twitter, update tentang artis idola seketika menyegarkan pikiran. Karena arus informasi cukup deras di aplikasi ini, saya-pun mengikuti beberapa portal online berita di Indonesia, sebut saja detik(com), kumparan dan kompas, membuat mata Saya kembali bertemu dengan berita politik.
Mau tidak mau harus liat berita yang disuguhkan oleh portal online di Indonesia, atau pengguna media sosial. Saya mengakui teman-teman pun ikut membicarkan politik. Jika saya mematikan tv, tidak tersambung online di smartphone, dan tidak bersosialisasi mungkin Saya akan menjadi orang yang tertinggal. Mau tidak mau pasti kita mengetahui perkembangan berita Politik. Meskipun saya belum pernah memberikan argument tentang politik di media sosial, bukan berarti Saya tidak memiliki pemahaman tersebut. Tentu, Saya juga melek politik.
Tokoh politik yang cukup ramai dibicarakan dan menyorot perhatian Saya yaitu Sandiaga Uno. Berdasarkan sumber informasi yang saya baca, Sandiaga Uno termasuk orang terkaya ke-37 di Forbes Indonesia pada tahun 2011. Bukan hanya kekayaannya yang menjadi sorotan, saat ia meninggalkan kursi 2 DKI Jakarta, dan menemani Prabowo sebagai cawapres, juga membuat reaksi dan perbincangan yang cukup ramai, terutama di media sosial. Dan banyak sekali argument, berbagai macam alasan Sandi dipilih Prabowo untuk menemaninya di Pilpres 2019, salah satu nya banyak yang menyebut Pak Sandi ini kantongnya Pak Prabowo.
Sandiaga Uno maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto, dengan latar belakangnya pengusaha muda yang sukses, dan image nya seakan muda dan fresh, membuat saya memilih tema untuk presentasi. Sebelum mengetahui bahwa beliau merupakan pengusaha sukses, saya merasa sangat tertarik dengan aksi dan berbagai tingkah lakunya. Saya tidak ikut memilih Pilgub DKI, tapi saya mengikuti berita saat pasangan Annies – Sandi melakukan kampanye dan ketika sudah terpilih, banyak sekali moment yang seakan lucu atau “nyeleneh”, salah satunya ketika pak Sandi kerja memakai baju dinas ditemani sneakers.
Dilansir dari Biografi Tokoh, perjalanan karir Sandi Uno dimulai dari perusahaan yang didirikan bersama temannya. Sebelumnya ia bekerja di perusahaan investasi di Singapura, namun perusahaan tersebut bangkrut dan ia menjadi pengangguran. Semula kaget dengan perubahan kehidupannya, tapi Sandi harus mulai dari nol dan bagaimana-pun caranya harus bisa survive. Kemudian ia mengandeng rekan sekolah nya dulu saat SMA, mereka mendirikan PT Recapital Advisors. Kemudian karena hubungan akrabnya dengan keluarga Soeryadjaja membawa Sandi mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya bersama anak William, Edwin Soeryadjaja.
Bisnis Sandi mulai terlihat ketita Indonesia sedang krisis, Sandi mampu “memanfaatkan” momentum krisis unuk melebarkan sayap bisnisnya. Saat itu banyak perusahaan papan atas yang runtuh tak berdaya. Nilai aset-aset mereka pun runtuh. Perusahaan investasi yang didirikan Sandi dan kolega-koleganya segera menyusun rencana. Mereka meyakinkan investor-investor mancanegara agar mau menyuntikkan dana ke tanah air. Tantangan yang sulit ialah meyakinkan bahwa Indonesia masih punya prospek. Namun Sandi dan team dapat membantu beberapa perusaan kala itu.
Dibalik pencapaiannya, Sandi mengalami jatuh bangun dalam perjalanan karirnya. Adanya networking yang luas dengan perusahaan dan lembaga keuangan, membuat perusahaan yang didirikan Sandiaga Uno berhasil mengambil alih 12 perusahaan hingga tahun 2009. Tidak puas hanya sukses dibidang bisnis. Sandi-pun memutuskan untuk bergabung ke dunia politik. Entah apa yang mendasari alasan Sandi terjun ke politik. Sekitar tahun 2017, ia maju mendampingi Anies Baswedan yang diusung oleh Partai Gerindra dan PKS di Pilkada DKI. Sandiaga bersama Anies pun berhasil memenangkan Pilkada tersebut.
Masa pilkada DKI selesai, berganti dengan Pilpres 2019. Bersamaan dengan isu #2019gantipresiden yang sudah ramai dibicarakan sejak awal tahun 2018. Prabowo dan Jokowi kembali mencalonkan diri di Pilpres2019, masyarakat penasaran siapakah yang akan mendampingi mereka, dan ikut mencocokan beberapa nama yang ‘mungkin’ akan terpilih sebagai cawapres Prabowo dan Jokowi. Nama Sandiaga Uno tidak terlalu ramai dibicarakan saat itu, malahan tidak sama sekali saya mendengar berita pak Sandi akan jadi cawapres Jokowi atau Prabowo. Karena AHY ramai disebut akan maju mendampingi Prabowo.
Saat hari terakhir pendaftaran Calon Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo mengumumkan pendampingnya di Pilpres 2019, yaitu Sandiaga Uno. Volla! “Kok bisa?” “Terus Pak Anies Sendirian dong?” “Kalau gak menang pilpres nyesel banget ninggalin bangku wakil gubernur DKI!” “Yaiyalah, pak Sandi dipilih, Pilpres pasti kan ngeluarin banyak dana!”, mayoritas tanggapan warganet yang saya simpulkan ketika Prabowo mengumumkan cawapresnya. Saya pun juga ngga percaya kayak “lho????”
Tapi, kalau dilihat lebih detail, ada perubahan image yang ingin disampaikan pasangan Prabowo – Sandi untuk Pilpres 2019 ini, image yang melekat di benak saya saat Pilpres 2014 pasangan Prabowo – Hatta terlihat pasangan yang kuat dan keras, seperti masih terasa sekali sifat kemiliteran pada diri Prabowo. Ketika menggandeng Sandi, saya yakin bukan hanya dari segi logistik, tapi ada pesan mengubah image Prabowo yang seakan keras. Salah satu contoh dari perkumpulan/partai emak-emak yang disuarakan oleh Sandi, seperti yang kita tahu saat pemilihan presiden SBY, SBY mendapatkan suara (mayoritas) dari kubu perempuan. Jadi saya melihat Paslon ini mencoba ambil suara hati emak-emak (ibu-ibu) dari segi pasangan calon yang kharismatik, image keren dan humble. Coba kalau perkumpulan emak-emak ini diterapin Prabowo saat kampanye Pilpres 2014, penasaran respon nya akan seperti apa?
Contoh lain ketika Prabowo-Sandi pergi ke gedung KPU mendaftar Pilpres. Prabowo memilih menggunakan mobil untuk sampai ke KPU, sedangkan Sandi memilih untuk berjalan kaki. Pesan yang saya terima, ialah pak Prabowo masih ingin dihormati dan tinggi derajatnya, karena ia akan menjadi Calon Presiden 2019-2024. Dengan membuka jendela atas mobilnya sambil melambaikan tangan kepada pendukung yang mengantar ke gedung kpu, seperti itu cara beliau berkomunikasi dengan pendukungnya. Sedangkan Sandi ingin di cap sebagai sosok yang humble, down to earth, berjalan beriringan dengan pendukungnya yang mengantar.
Sekiranya itu pesan yang saya terima dari paslon Prabowo-Sandi. Alasan memilih tema ini bukan karena Saya mendukung Paslon Prabowo-Sandi. Tapi ketertarikan dari tingkah laku yang muncul dari seorang Sandiaga Uno.
Jurnal ilmiah yang dipakai untuk referensi yaitu milik Rahmat Taufik yang berjudul Perjalanan Kesuksesan Hidup Seorang Sandiaga Shalahudin Uno, juga milik Vicky Nur W yang judulnya Sandiaga Uno Bagikan 4 AS Pengusaha. Kemudian, buku juga menjadi acuan saya dalam mengumpulkan informasi, yaitu buku yang ditulis oleh Nor Islafatun yang berjudul Sandiaga Uno, dan buku yang ditulis oleh Sandiaga S. Uno yang berjudul Kerja Tuntas, Kerja Ikhlas – One Way Ticket To Succes.

Referensi Artikel Online:
Rony Wijaya, 2017.    Biografi Sandiaga Uno. [Online] Avaible at: bio.or.id/biografi-sandiaga-uno/
(zul/dnl), 2013. Kisah Awal Karir Sandiaga Uno: Ditolak 25 Perusahaan dan Dianggap Anak Kemarin Sore. [Online] Avaible at: m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-2384472/kisah-awal-karir-sandiaga-uno-ditolak-25-perusahaan-dan-dianggap-anak-kemarin-sore

KARTIKA PUSPA RINI
201510415123 (7A2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar