Kamis, 13 September 2018

Politik #gantitema


APA ANAK PRESIDEN HARUS JADI PRESIDEN JUGA?
oleh Kartika Puspa Rini (201510415123)

Ada pepatah bilang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, artinya seorang anak tumbuh mengikuti jejak orang tuanya. “Kalau orangtuanya Artis pasti anak nya juga pingin jadi artis” juga “masa orang tuanya PNS anaknya ngga lolos jadi PNS sih?”, stereotype seperti itu yang sudah nempel dibenak masyarakat kita. Jika dihubungkan dengan politik, “Wah Bapaknya Presiden, anaknya juga harus ngikutin karier bapaknya!”. Benarkah seperti itu?
Megawati Soekarno Putri presiden ke lima Republik Indonesa, merupakan anak dari Proklamator RI. Mengikuti jalur sang Ayah, bu Mega pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini. Begitu juga dengan AHY, anak sulung dari Mantan Presiden RI Ke 6. AHY merelakan karier militernya dan masuk ke dunia politik. Apakah seorang anak benar-benar bisa merepresentasikan diri dari seorang Ayahnya? Apa harapan seorang ayah, mantan presiden, melihat anaknya membanting setir kariernya yang telah dijalani, demi mengikuti jejak sang Ayah?
Dalam tulisan ini, Penulis tidak ingin membahas lebih tentang Megawati atau AHY, tapi penulis akan fokus kepada putra mantan Presiden Republik Indonesia ke-2 Soeharto. Yap, Hutomo Mandala Putra atau lebih dikenal Tommy Soeharto, kini kembali ke kancah perpolitikan tanah air, dengan mendirikan partai baru yaitu Partai Berkarya. Dengan maksud Tommy membuat partai baru dan menjadi Ketua Umum nya, yang digadang-gadangkan partai berkarya menjadi “anak Golkar”, apakah Tommy berencana menjadi Presiden RI?
Penulis akan menjelaskan sedikit latar belakang Tommy Soeharto (dikutip dari situs viva.co.id), lahir di Jakarta 15 Juli 1962, anak kelima dari enam bersaudara dari pasangan Soeharto dan Siti Hartinah. Bapaknya adalah seorang perwira tinggi Angkatan Darat yang kemudian menjadi presiden RI ke-2. Saat bapaknya menjadi presiden RI ke-2, Tommy berusia lima tahun. Sejak itu, masa kecil Tommy hingga dewasa dalam lingkungan sang penguasa tanah air hingga 1998. Bapaknya berkuasa sampai 32 tahun.
Banyak fasilitas yang dimilikinya selama hidupnya, membuat Tommy menjadi sosok pengusaha papan atas dalam usia muda. Pada umur 30-an ia sudah memiliki banyak perusahaan. Semua fasilitas terhenti pada tahun 1998. Gelombang aksi gerakan reformasi menuntut turunnya Presiden Soeharto. Presiden RI ke-2 itu-pun lengser bertanda tumbangnya rezim orde baru dan lahirnya Era Reformasi.
Berakhirnya masa kekuasaan Bapaknya mengubah segala kehidupan Tommy Soeharto. Mulai masalah bisnis, keluarga, hingga kehidupan pribadi. Dengan banyak masalah yang tak kunjung usai, rumah tangga Tommy ikut runtuh, dan bercerai dengan istrinya pada September 2006. Masalah pribadi lain mengusik Tommy, ia dipenjara atas perencanaan pembunuhan terhadap Hakim Agung Syaifuddin Kartasasmita pada 26 Juli 2001. Sebelumnya, Tommy berperkara soal pemilikan senjata api dan amunisi illegal dan kasus sengaja melarikan diri.
Tommy divonis 15 tahun penjara terhitung 2002 hingga 2017. Namun atas keputusan Mahkamah Agung yang meringankan menjadi 10 tahun dan berbagai remisi, Tommy baru bisa keluar pada Oktober 2008. Ternyata ia bisa keluar lebih cepat pada tahun 2006 karena dibebaskan secara bersyarat.  Tommy kembali menata hidupnya, dan mulai melirik dunia politik. Ia kembali kepartai Golkar, kemudian pada tahun 2009 ia mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Partai Golkar, tapi gagal. Gagal berkarya di Golkar, membuat Tommy mendirikan partai Politik bernama Partai Berkarya, Tommy di daulat menjadi ketua umum DPP Partai berkarya periode 2016-2021.
Dengan mendirikannya Partai Berkarya, putra bungsu mantan penguasa orde baru ini mengaku semakin miris dengan situasi politik saat ini. Ia merasa terpanggil dan ingin melindungi NKRI dari banyaknya utang negara dan ketidak stabilan dalam kedaulatan rakyat. Selain sibuk sebagai pendiri partai, Tommy juga masih bergelut di dunia bisnis, salah satu tujuannya adalah untuk membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya.
Walau sosoknya kontroversial, anak kelima mantan Presiden Soeharto ini tetap tercatat sebagai orang terkaya di RI ke-60 versi majalah bisnis Globe Asia. Perusahaan yang dimiliki oleh Tommy Soeharto ialah Grup Humpuss, Lor International Hotel Group (Lor in Hotel), dan Tommy memiliki V-Power Corp, perusahaan pemegang saham milik Automobil Lamborghini.
Meski sukses dalam dunia bisnis, tidak membuat Tommy gampang meraih kesuksesan dalam kancah politik. Partai Berkarya merupakan partai baru, jadi tidak diperbolehkan untuk menyalonkan capres dan cawapres, namun semangat Tommy pantang surut, ia percaya diri maju untuk Calon Legislatif.
Mari sama-sama melihat bagaimana dan apa saja rencana Tommy pada masa kampanye ini. Alasan Penulis memilih tema ini ialah ketertarikan akan sosok Tommy Soeharto, yang berani, kuat, angkuh, percaya diri dengan lika-liku yang cukup kontroversial dalam cerita kehidupannya. Kemudian menjadi ketertarikan Penulis, ketika Tommy berani membuat partai baru dan “ingin” mencalonkan diri sebagai Presiden RI.

Artikel yang menjadi acuan;
m.viva.co.id/amp/siapa/read/385-tommy-soeharto
idntimes.com/news/indonesia/amp/fitang-adhitia/tommy-soeharto-ungkap-tujuannya-dirikan-partai-berkarya
Buku yang akan menjadi acuan:
Tommy Soeharto – I’ll be Back oleh Erwiyantoro dan Endang Suherman
Testimoni Antasari Azhar untuk Hukum dan Keadilan oleh Max Diaz Riberu dan Servas Pandur



Tidak ada komentar:

Posting Komentar