APA ANAK PRESIDEN
HARUS JADI PRESIDEN JUGA?
oleh Kartika Puspa
Rini (201510415123)
Ada pepatah
bilang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, artinya seorang anak tumbuh
mengikuti jejak orang tuanya. “Kalau orangtuanya Artis pasti anak nya juga
pingin jadi artis” juga “masa orang tuanya PNS anaknya ngga lolos jadi PNS
sih?”, stereotype seperti itu yang
sudah nempel dibenak masyarakat kita. Jika dihubungkan dengan politik, “Wah
Bapaknya Presiden, anaknya juga harus ngikutin karier bapaknya!”. Benarkah
seperti itu?
Megawati
Soekarno Putri presiden ke lima Republik Indonesa, merupakan anak dari
Proklamator RI. Mengikuti jalur sang Ayah, bu Mega pernah menjadi orang nomor
satu di negeri ini. Begitu juga dengan AHY, anak sulung dari Mantan Presiden RI
Ke 6. AHY merelakan karier militernya dan masuk ke dunia politik. Apakah
seorang anak benar-benar bisa merepresentasikan diri dari seorang Ayahnya? Apa
harapan seorang ayah, mantan presiden, melihat anaknya membanting setir
kariernya yang telah dijalani, demi mengikuti jejak sang Ayah?
Dalam tulisan
ini, Penulis tidak ingin membahas lebih tentang Megawati atau AHY, tapi penulis
akan fokus kepada putra mantan Presiden Republik Indonesia ke-2 Soeharto. Yap, Hutomo
Mandala Putra atau lebih dikenal Tommy Soeharto, kini kembali ke kancah
perpolitikan tanah air, dengan mendirikan partai baru yaitu Partai Berkarya.
Dengan maksud Tommy membuat partai baru dan menjadi Ketua Umum nya, yang
digadang-gadangkan partai berkarya menjadi “anak Golkar”, apakah Tommy
berencana menjadi Presiden RI?
Penulis akan
menjelaskan sedikit latar belakang Tommy Soeharto (dikutip dari situs
viva.co.id), lahir di Jakarta 15 Juli 1962, anak kelima dari enam bersaudara
dari pasangan Soeharto dan Siti Hartinah. Bapaknya adalah seorang perwira
tinggi Angkatan Darat yang kemudian menjadi presiden RI ke-2. Saat bapaknya
menjadi presiden RI ke-2, Tommy berusia lima tahun. Sejak itu, masa kecil Tommy
hingga dewasa dalam lingkungan sang penguasa tanah air hingga 1998. Bapaknya
berkuasa sampai 32 tahun.
Banyak
fasilitas yang dimilikinya selama hidupnya, membuat Tommy menjadi sosok
pengusaha papan atas dalam usia muda. Pada umur 30-an ia sudah memiliki banyak
perusahaan. Semua fasilitas terhenti pada tahun 1998. Gelombang aksi gerakan
reformasi menuntut turunnya Presiden Soeharto. Presiden RI ke-2 itu-pun lengser
bertanda tumbangnya rezim orde baru dan lahirnya Era Reformasi.
Berakhirnya
masa kekuasaan Bapaknya mengubah segala kehidupan Tommy Soeharto. Mulai masalah
bisnis, keluarga, hingga kehidupan pribadi. Dengan banyak masalah yang tak
kunjung usai, rumah tangga Tommy ikut runtuh, dan bercerai dengan istrinya pada
September 2006. Masalah pribadi lain mengusik Tommy, ia dipenjara atas
perencanaan pembunuhan terhadap Hakim Agung Syaifuddin Kartasasmita pada 26
Juli 2001. Sebelumnya, Tommy berperkara soal pemilikan senjata api dan amunisi
illegal dan kasus sengaja melarikan diri.
Tommy divonis
15 tahun penjara terhitung 2002 hingga 2017. Namun atas keputusan Mahkamah
Agung yang meringankan menjadi 10 tahun dan berbagai remisi, Tommy baru bisa
keluar pada Oktober 2008. Ternyata ia bisa keluar lebih cepat pada tahun 2006
karena dibebaskan secara bersyarat.
Tommy kembali menata hidupnya, dan mulai melirik dunia politik. Ia
kembali kepartai Golkar, kemudian pada tahun 2009 ia mencalonkan diri sebagai
Ketua Umum Partai Golkar, tapi gagal. Gagal berkarya di Golkar, membuat Tommy
mendirikan partai Politik bernama Partai Berkarya, Tommy di daulat menjadi
ketua umum DPP Partai berkarya periode 2016-2021.
Dengan
mendirikannya Partai Berkarya, putra bungsu mantan penguasa orde baru ini
mengaku semakin miris dengan situasi politik saat ini. Ia merasa terpanggil dan
ingin melindungi NKRI dari banyaknya utang negara dan ketidak stabilan dalam
kedaulatan rakyat. Selain sibuk sebagai pendiri partai, Tommy juga masih
bergelut di dunia bisnis, salah satu tujuannya adalah untuk membuka lapangan
pekerjaan seluas-luasnya.
Walau sosoknya
kontroversial, anak kelima mantan Presiden Soeharto ini tetap tercatat sebagai
orang terkaya di RI ke-60 versi majalah bisnis Globe Asia. Perusahaan yang dimiliki oleh Tommy Soeharto ialah Grup
Humpuss, Lor International Hotel Group (Lor in Hotel), dan Tommy memiliki
V-Power Corp, perusahaan pemegang saham milik Automobil Lamborghini.
Meski sukses
dalam dunia bisnis, tidak membuat Tommy gampang meraih kesuksesan dalam kancah
politik. Partai Berkarya merupakan partai baru, jadi tidak diperbolehkan untuk
menyalonkan capres dan cawapres, namun semangat Tommy pantang surut, ia percaya
diri maju untuk Calon Legislatif.
Mari sama-sama
melihat bagaimana dan apa saja rencana Tommy pada masa kampanye ini. Alasan
Penulis memilih tema ini ialah ketertarikan akan sosok Tommy Soeharto, yang
berani, kuat, angkuh, percaya diri dengan lika-liku yang cukup kontroversial
dalam cerita kehidupannya. Kemudian menjadi ketertarikan Penulis, ketika Tommy
berani membuat partai baru dan “ingin” mencalonkan diri sebagai Presiden RI.
Artikel yang menjadi acuan;
m.viva.co.id/amp/siapa/read/385-tommy-soeharto
idntimes.com/news/indonesia/amp/fitang-adhitia/tommy-soeharto-ungkap-tujuannya-dirikan-partai-berkarya
Buku yang akan menjadi acuan:
Tommy Soeharto – I’ll be Back
oleh Erwiyantoro dan Endang Suherman
Testimoni Antasari Azhar untuk
Hukum dan Keadilan oleh Max Diaz Riberu dan Servas Pandur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar