Setelah Asian Games 2018 berakhir,
politik kembali memanas. Bentuk dari politik memanas yaitu ketika semua tv
kembali menayangkan berita tentang aktor politik, yang kemudian membuat Saya
mematikan tv karena terlalu sulit untuk mengerti apa yang sebenarnya mereka
bicarakan. Kemudian Saya beralih membuka smartphone,
dan buka aplikasi Twitter, update tentang
artis idola seketika menyegarkan pikiran. Karena arus informasi cukup deras di
aplikasi ini, saya-pun mengikuti beberapa portal online berita di Indonesia,
sebut saja detik(com), kumparan dan kompas, membuat mata Saya kembali bertemu
dengan berita politik.
Mau tidak mau harus liat berita
yang disuguhkan oleh portal online di Indonesia, atau pengguna media sosial.
Saya mengakui teman-teman pun ikut membicarkan politik. Jika saya mematikan tv,
tidak tersambung online di smartphone, dan
tidak bersosialisasi mungkin Saya akan menjadi orang yang tertinggal. Mau tidak
mau pasti kita mengetahui perkembangan berita Politik. Meskipun saya belum
pernah memberikan argument tentang
politik di media sosial, bukan berarti Saya tidak memiliki pemahaman tersebut.
Tentu, Saya juga melek politik.
Tokoh politik yang cukup ramai
dibicarakan dan menyorot perhatian Saya yaitu Sandiaga Uno. Berdasarkan sumber
informasi yang saya baca, Sandiaga Uno termasuk orang terkaya ke-37 di Forbes
Indonesia pada tahun 2011. Bukan hanya kekayaannya yang menjadi sorotan, saat
ia meninggalkan kursi 2 DKI Jakarta, dan menemani Prabowo sebagai cawapres,
juga membuat reaksi dan perbincangan yang cukup ramai, terutama di media
sosial. Dan banyak sekali argument, berbagai macam alasan Sandi dipilih Prabowo
untuk menemaninya di Pilpres 2019, salah satu nya banyak yang menyebut Pak
Sandi ini kantongnya Pak Prabowo.
Sandiaga Uno maju sebagai calon
wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto, dengan latar belakangnya pengusaha
muda yang sukses, dan image nya
seakan muda dan fresh, membuat saya
memilih tema untuk presentasi. Sebelum mengetahui bahwa beliau merupakan
pengusaha sukses, saya merasa sangat tertarik dengan aksi dan berbagai tingkah
lakunya. Saya tidak ikut memilih Pilgub DKI, tapi saya mengikuti berita saat pasangan
Annies – Sandi melakukan kampanye dan ketika sudah terpilih, banyak sekali moment yang seakan lucu atau “nyeleneh”,
salah satunya ketika pak Sandi kerja memakai baju dinas ditemani sneakers.
Dilansir dari Biografi Tokoh,
perjalanan karir Sandi Uno dimulai dari perusahaan yang didirikan bersama
temannya. Sebelumnya ia bekerja di perusahaan investasi di Singapura, namun
perusahaan tersebut bangkrut dan ia menjadi pengangguran. Semula kaget dengan
perubahan kehidupannya, tapi Sandi harus mulai dari nol dan bagaimana-pun
caranya harus bisa survive. Kemudian
ia mengandeng rekan sekolah nya dulu saat SMA, mereka mendirikan PT Recapital
Advisors. Kemudian karena hubungan akrabnya dengan keluarga Soeryadjaja membawa
Sandi mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya bersama anak
William, Edwin Soeryadjaja.
Bisnis Sandi mulai terlihat ketita
Indonesia sedang krisis, Sandi mampu “memanfaatkan” momentum krisis unuk
melebarkan sayap bisnisnya. Saat itu banyak perusahaan papan atas yang runtuh
tak berdaya. Nilai aset-aset mereka pun runtuh. Perusahaan investasi yang
didirikan Sandi dan kolega-koleganya segera menyusun rencana. Mereka meyakinkan
investor-investor mancanegara agar mau menyuntikkan dana ke tanah air.
Tantangan yang sulit ialah meyakinkan bahwa Indonesia masih punya prospek.
Namun Sandi dan team dapat membantu
beberapa perusaan kala itu.
Dibalik pencapaiannya, Sandi
mengalami jatuh bangun dalam perjalanan karirnya. Adanya networking yang luas dengan perusahaan dan lembaga keuangan,
membuat perusahaan yang didirikan Sandiaga Uno berhasil mengambil alih 12
perusahaan hingga tahun 2009. Tidak puas hanya sukses dibidang bisnis.
Sandi-pun memutuskan untuk bergabung ke dunia politik. Entah apa yang mendasari
alasan Sandi terjun ke politik. Sekitar tahun 2017, ia maju mendampingi Anies
Baswedan yang diusung oleh Partai Gerindra dan PKS di Pilkada DKI. Sandiaga
bersama Anies pun berhasil memenangkan Pilkada tersebut.
Masa pilkada DKI selesai, berganti
dengan Pilpres 2019. Bersamaan dengan isu #2019gantipresiden yang sudah ramai
dibicarakan sejak awal tahun 2018. Prabowo dan Jokowi kembali mencalonkan diri
di Pilpres2019, masyarakat penasaran siapakah yang akan mendampingi mereka, dan
ikut mencocokan beberapa nama yang ‘mungkin’ akan terpilih sebagai cawapres
Prabowo dan Jokowi. Nama Sandiaga Uno tidak terlalu ramai dibicarakan saat itu,
malahan tidak sama sekali saya mendengar berita pak Sandi akan jadi cawapres
Jokowi atau Prabowo. Karena AHY ramai disebut akan maju mendampingi Prabowo.
Saat hari terakhir pendaftaran
Calon Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo mengumumkan pendampingnya di Pilpres
2019, yaitu Sandiaga Uno. Volla! “Kok bisa?” “Terus Pak Anies Sendirian dong?”
“Kalau gak menang pilpres nyesel banget ninggalin bangku wakil gubernur DKI!” “Yaiyalah,
pak Sandi dipilih, Pilpres pasti kan ngeluarin banyak dana!”, mayoritas
tanggapan warganet yang saya simpulkan ketika Prabowo mengumumkan cawapresnya.
Saya pun juga ngga percaya kayak “lho????”
Tapi, kalau dilihat lebih detail, ada
perubahan image yang ingin
disampaikan pasangan Prabowo – Sandi untuk Pilpres 2019 ini, image yang melekat di benak saya saat
Pilpres 2014 pasangan Prabowo – Hatta terlihat pasangan yang kuat dan keras, seperti
masih terasa sekali sifat kemiliteran pada diri Prabowo. Ketika menggandeng
Sandi, saya yakin bukan hanya dari segi logistik, tapi ada pesan mengubah image Prabowo yang seakan keras. Salah
satu contoh dari perkumpulan/partai emak-emak yang disuarakan oleh Sandi,
seperti yang kita tahu saat pemilihan presiden SBY, SBY mendapatkan suara (mayoritas)
dari kubu perempuan. Jadi saya melihat Paslon ini mencoba ambil suara hati
emak-emak (ibu-ibu) dari segi pasangan calon yang kharismatik, image keren dan humble. Coba kalau perkumpulan emak-emak ini diterapin Prabowo saat
kampanye Pilpres 2014, penasaran respon nya akan seperti apa?
Contoh lain ketika Prabowo-Sandi
pergi ke gedung KPU mendaftar Pilpres. Prabowo memilih menggunakan mobil untuk
sampai ke KPU, sedangkan Sandi memilih untuk berjalan kaki. Pesan yang saya
terima, ialah pak Prabowo masih ingin dihormati dan tinggi derajatnya, karena
ia akan menjadi Calon Presiden 2019-2024. Dengan membuka jendela atas mobilnya
sambil melambaikan tangan kepada pendukung yang mengantar ke gedung kpu,
seperti itu cara beliau berkomunikasi dengan pendukungnya. Sedangkan Sandi
ingin di cap sebagai sosok yang humble,
down to earth, berjalan beriringan dengan pendukungnya yang mengantar.
Sekiranya itu pesan yang saya
terima dari paslon Prabowo-Sandi. Alasan memilih tema ini bukan karena Saya
mendukung Paslon Prabowo-Sandi. Tapi ketertarikan dari tingkah laku yang muncul
dari seorang Sandiaga Uno.
Jurnal ilmiah yang dipakai untuk
referensi yaitu milik Rahmat Taufik yang berjudul Perjalanan Kesuksesan Hidup
Seorang Sandiaga Shalahudin Uno, juga milik Vicky Nur W yang judulnya Sandiaga
Uno Bagikan 4 AS Pengusaha. Kemudian, buku juga menjadi acuan saya dalam
mengumpulkan informasi, yaitu buku yang ditulis oleh Nor Islafatun yang
berjudul Sandiaga Uno, dan buku yang ditulis oleh Sandiaga S. Uno yang berjudul
Kerja Tuntas, Kerja Ikhlas – One Way Ticket To Succes.
Referensi
Artikel Online:
Rony Wijaya, 2017. Biografi
Sandiaga Uno. [Online] Avaible at: bio.or.id/biografi-sandiaga-uno/
(zul/dnl), 2013. Kisah Awal Karir Sandiaga Uno:
Ditolak 25 Perusahaan dan Dianggap Anak Kemarin Sore. [Online] Avaible at: m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-2384472/kisah-awal-karir-sandiaga-uno-ditolak-25-perusahaan-dan-dianggap-anak-kemarin-sore
–
KARTIKA PUSPA RINI
201510415123 (7A2)