The Question
@tikasshi
Bruk!
Tepat saat Seungyoon ingin
membiarkan jemarinya memetik senar gitar dan menciptakan melodi, sepasang
sepatu hak tinggi terdampar tak berdaya di depan matanya. Kepala lelaki itu
terangkat dan kedua irisnya menangkap sosok gadis bergaun merah muda memasang
wajah masam di hadapannya. Belum saja mulutnya terbuka dan menanyakan apa yang
telah terjadi, gadis itu menaruh tubuhnya di kursi ayunan di samping Seungyoon
sembari melepas anting-anting cantik yang tergantung di daun telinganya.
"Lelaki itu sudah gila!
Apa salahku hingga ia melakukan hal itu? Kenapa semua harus terjadi padaku?
Seungyoon-a, apa yang salah
dariku?"
Seungyoon sedang bersusah
payah menebak apa yang terjadi pada Ara hanya dengan mendengar celotehannya
yang mengganggu. Tapi sayang, ia tak menemukan apapun untuk diketahui.
"Apa yang ia lakukan?"
Ara menghela napas sembari
melurusksn kakinya yang mungkin sudah lelah menahan tubuhnya sejak matahari
mulai terbenam. Ingin sekali Seungyoon bersikap tak peduli dengan apa yang
terjadi pada gadis itu. Ia tak ingin terjebak lebih dalam, namun di satu sisi
pula ia tak ingin melihat wajah murung itu lebih lama. Melihat wajah murung Ara
dan mendengar ia memaki dirinya sendiri bisa berdampak pada kehidupannya juga.
Lebih baik ia mendengar suara radio butut seharian daripada mendengar celotehan
Ara.
"Pertanyaan yang kuharap
bisa keluar dari mulutnya justru tertuju pada gadis lain," ujarnya dengan
nada yang sudah lebih terkontrol. "Bohong bila aku tersenyum dan menerima
semuanya. Mencintai tuk di sakiti—it’s a
bullshit!"
"Aku sudah pernah
memeringatkanmu. Kau tidak percaya, sih." Seungyoon mengangkat sudut
bibirnya sambil sesekali memainkan senar di gitarnya. Ia tahu bagaimana
perasaan Ara. Ia sudah terbiasa disiram oleh perasaan itu sejak beberapa tahun
yang lalu. Semua seperti sebuah rutinitas yang tak bisa ia hindari meski ratusan
kali ia tolak. Berada di posisi Ara seperti takdir yang sudah digariskan.
"Ya, seharusnya aku
mengikuti perkataanmu."
Untuk pertama kalinya
Seungyoo mengangguk dan merasa kalau Ara bagai gelas kaca yang mudah retak. Ara
jarang menyetujui kalimat Seungyoon. Sekalinya begitu, berarti ia telah berada
pada puncak kekecewaan akan dirinya sendiri. "Memangnya kau berharap dia
bertanya apa?"
"Maukah kau menjadi kekasihku? Maukah kau menjalani hari bersamaku
sebagai sepasang kekasih? Atau aku mencintaimu, ayo kita pacaran!"
Ujar Ara seraya menirukan gaya bicara orang yang sedang mereka bicarakan.
"Semacam itulah."
"Menyedihkan."
"Apa?" Kedua mata
gadis itu terbuka lebar. Kepalanya berputar ke arah Seungyoon seperti harimau
yang hendak memangsa hewan buruannya.
"Kau sangat menyedihkan
telah berekspektasi sejauh itu." Tanpa ragu-ragu kekehan lepas dari mulut
lelaku itu. Seungyoon melepas konsentrasinya pada gitar kesayangannya sejenak. "Bagaimana
jika aku yang mengajukan pertanyaan itu padamu?"
"Kau sedang sakit,"
Ara menggeleng seraya menaruh punggung tangannya ke kening Seungyoon. "Apa
maksudmu?"
"Aku mencintaimu. Maukah
kau menjadi pacarku?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
End

Tidak ada komentar:
Posting Komentar