Kamis, 12 Mei 2016

Khayalan Babu #4

The Question
@tikasshi

Bruk!
Tepat saat Seungyoon ingin membiarkan jemarinya memetik senar gitar dan menciptakan melodi, sepasang sepatu hak tinggi terdampar tak berdaya di depan matanya. Kepala lelaki itu terangkat dan kedua irisnya menangkap sosok gadis bergaun merah muda memasang wajah masam di hadapannya. Belum saja mulutnya terbuka dan menanyakan apa yang telah terjadi, gadis itu menaruh tubuhnya di kursi ayunan di samping Seungyoon sembari melepas anting-anting cantik yang tergantung di daun telinganya.
"Lelaki itu sudah gila! Apa salahku hingga ia melakukan hal itu? Kenapa semua harus terjadi padaku? Seungyoon-a, apa yang salah dariku?"
Seungyoon sedang bersusah payah menebak apa yang terjadi pada Ara hanya dengan mendengar celotehannya yang mengganggu. Tapi sayang, ia tak menemukan apapun untuk diketahui. "Apa yang ia lakukan?"
Ara menghela napas sembari melurusksn kakinya yang mungkin sudah lelah menahan tubuhnya sejak matahari mulai terbenam. Ingin sekali Seungyoon bersikap tak peduli dengan apa yang terjadi pada gadis itu. Ia tak ingin terjebak lebih dalam, namun di satu sisi pula ia tak ingin melihat wajah murung itu lebih lama. Melihat wajah murung Ara dan mendengar ia memaki dirinya sendiri bisa berdampak pada kehidupannya juga. Lebih baik ia mendengar suara radio butut seharian daripada mendengar celotehan Ara.
"Pertanyaan yang kuharap bisa keluar dari mulutnya justru tertuju pada gadis lain," ujarnya dengan nada yang sudah lebih terkontrol. "Bohong bila aku tersenyum dan menerima semuanya. Mencintai tuk di sakiti—it’s a bullshit!"
"Aku sudah pernah memeringatkanmu. Kau tidak percaya, sih." Seungyoon mengangkat sudut bibirnya sambil sesekali memainkan senar di gitarnya. Ia tahu bagaimana perasaan Ara. Ia sudah terbiasa disiram oleh perasaan itu sejak beberapa tahun yang lalu. Semua seperti sebuah rutinitas yang tak bisa ia hindari meski ratusan kali ia tolak. Berada di posisi Ara seperti takdir yang sudah digariskan.
"Ya, seharusnya aku mengikuti perkataanmu."
Untuk pertama kalinya Seungyoo mengangguk dan merasa kalau Ara bagai gelas kaca yang mudah retak. Ara jarang menyetujui kalimat Seungyoon. Sekalinya begitu, berarti ia telah berada pada puncak kekecewaan akan dirinya sendiri. "Memangnya kau berharap dia bertanya apa?"
"Maukah kau menjadi kekasihku? Maukah kau menjalani hari bersamaku sebagai sepasang kekasih? Atau aku mencintaimu, ayo kita pacaran!" Ujar Ara seraya menirukan gaya bicara orang yang sedang mereka bicarakan. "Semacam itulah."
"Menyedihkan."
"Apa?" Kedua mata gadis itu terbuka lebar. Kepalanya berputar ke arah Seungyoon seperti harimau yang hendak memangsa hewan buruannya.
"Kau sangat menyedihkan telah berekspektasi sejauh itu." Tanpa ragu-ragu kekehan lepas dari mulut lelaku itu. Seungyoon melepas konsentrasinya pada gitar kesayangannya sejenak. "Bagaimana jika aku yang mengajukan pertanyaan itu padamu?"
"Kau sedang sakit," Ara menggeleng seraya menaruh punggung tangannya ke kening Seungyoon. "Apa maksudmu?"
"Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi pacarku?"
.
.
.
.
.
.

End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar